syartinilia wijaya

Welcome to my weblog......

Spatial Distribution and Landscape Characteristics of Flores Hawk-Eagle (Nisaetus Floris) Habitat in Flores Island

ABSTRACT

Flores Hawk-Eagle (FHE, Nisaetus floris) is one of the endemic and keystone species that was rarely studied among other eagles. The study on the FHE is currently experiencing limited information for estimating their distribution area. Therefore, the FHE habitat distribution is required as the essential information for developing the strategies and conservation action. The objectives of this study were to identify the spatial habitat distribution and analyze the characteristics of the habitat. Minimum convex polygon (MCP) and kernel-density estimation (KDE) 95% was combined with the land cover map for delineating the patch habitat of FHE. Slope, elevation, and land cover were used as environmental variables. Principal Component Analysis (PCA) combine with GIS were used for characterizing the landscape habitat. The results showed that there were eight habitat patches with a total area of 1.132 km2. Six principal components were retained from PCA analysis which explained 71.96% of data variance. Habitat characteristics of FHE describe its requirement for nesting and hunting activities for principal components 1 to 4, while for flight activity related to principal components 5 and 6. Forests and savannahs become the main habitat preference for both nesting and hunting activities. Results of this study will be supported as baseline information for developing conservation strategies and action for FHE.

 

Source:

Syartinilia,  Setiawan RMK (2021) “Spatial Distribution and Landscape Characteristics of Flores Hawk-Eagle (Nisaetus Floris) Habitat in Flores Island : Distribusi Spasial dan Karakteristik Lanskap Habitat Elang Flores (Nisaetus Floris) di Pulau Flores ”, Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 11(4), pp. 543-549. https://doi.org/10.29244/jpsl.11.4.543-549

Modeling the Wintering Habitat Distribution of Oriental Honey Buzzards in West Java Indonesia with Satellite Tracking Data Using Logistic Regression

Abstract

Oriental honey buzzards (OHBs, Pernis ptilorhynchus) are one of migratory raptor from Japan to Indonesia which is widely recognized as indicator species reflecting the conditions of their habitat. Since 2003, OHBs have been satellite-tracked in their wintering grounds in Indonesia. Less information available on wintering areas in the west Java, which hampers the OHB conservation efforts. This paper proposes a new approach for predicting the probability models of the wintering habitat distribution of OHBs with the presence data derived from satellite tracking using logistic regression analysis coupled with RAMAS GIS. This spatial model was locally constructed from the data concerning Talaga Bodas and its surrounding areas and extrapolated for the entire West Java region. The best predicted probability model successfully characterized the distribution of the OHB wintering habitat using slope (25–40%), elevation (0–300 m and >1,000 m), and land cover (forest, paddy field, and water body). The extrapolation model generated potential areas of the wintering habitat distribution covering an area of 3013.13 km2 (8.11% of West Java). These areas were predominantly located outside the protected areas (94.04%). The modeling approach proposed herein may be used to study other migratory species that are tracked using satellite or other navigation technologies.

Source:

Syartinilia, Mulyani Y. A., Makalew A. D. N., & HiguchiH. (2021). Modeling the Wintering Habitat Distribution of Oriental Honey Buzzards in West Java Indonesia with Satellite Tracking Data Using Logistic Regression. HAYATI Journal of Biosciences29(1), 9-21. https://doi.org/10.4308/hjb.29.1.9-21

Hutan Mangrove di Tanjung Keuramat, Aceh Tamiang

Hutan mangrove di Tanjung Keuramat, Aceh Tamiang mengalami banyak gangguan seperti penebangan liar untuk kebutuhan pembuatan arang. Seperti diketahui keberadaan hutan mangrove memilki banyak manfaat baik secara fisik, biologis, dan juga ekonomi. Sehingga keberadaan hutan mangrove perlu dilestarikan dan untuk yang telah rusak perlu direstorasi. Untuk hutan mangrove di Tanjung Keuramat saat ini tengah dilakukan perbaikan melalui skema kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan LSM.

Webinar Festival Migrasi Burung Pemangsa Virtual 2021

Migrasi Si Burung Pemangsa (Raptor) membawa keunikan & ketertarikan tersendiri bagi para pemerhati, pengamat maupun fotografer satwa liar.

Kenapa sih momen ini begitu spesial?

Para ahli akan mengemukakannya melalui Webinar “Mengamati Sang Penguasa Angkasa Melintas di Pulau Dewata”

Kegiatan ini akan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Webinar pada:

Hari/Tgl.: Jumat, 1 Oktober 2021
Pukul: 19.00 WITA

Segera daftarkan diri kalian melalui link yang tertera…!!

https://bit.ly/MigrasiRaptor2021

 

Wisata Sejarah Likuifaksi Kelurahan Petobo, Kota Poso

Kondisi area pasca bencana likuifaksi di Kelurahan Petobo yang memiliki view lanskap yang indah

Pintu gerbang wisata sejarah likuifaksi Petobo

Pada kesempatan kunjungan ke Kota Palu, saya berkesempatan mengunjungi lokasi pasca bencana likuifaksi yang terjadi  bersamaan dengan gempa bumi dan tsunami pada 28 September 2018.  Laporan Dampak Bencana Gempa, Tsunami dan Likuifaksi, yang disampaikan Pemerintah Sulteng 22 Februari 2019, tercatat korban meninggal dunia 2.830 jiwa, hilang 701 jiwa, terkubur massal 1.016 Jiwa, total 4.204 jiwa.  Gempa  yang berkekuatan M 7.4 terjadi pergerakan tanah yang membuat pemukiman di Petobo ikut ambles. Fenomena likuifaksi (tanah mencair alias jadi lumpur) terjadi di empat titik, yakni Petobo, Balaroa, Jono Oge dan Sibalaya. Dimana Kelurahan Petobo merupakan lokasi bencana likuifaksi terluas yaitu 181, 24 ha. Saat ini kondisi lokasi tersebut sudah menjadi semak belukar. Warga yang selamat membangun rumah tidak jauh dari lokasi tersebut baik rumah yang dibangun sendiri ataupun menetap di rumah hunian sementara.

Lokasi pasca likuifaksi di Kelurahan Petobo saat ini dijadikan objek wisata sejarah likuifaksi. Dengan dijadikan sebagai objek wisata sejarah diharapkan dapat memberikan pengetahuan sejarah dan juga edukasi buat pengunjung tentang bencana likuifaksi yang terjadi. Lokasi pasca likuifaksi idealnya tidak dimanfaatkan lagi untuk pemukiman karena bencana ini yang sudah diprediksi lama dan sudah pernah terjadi namun tidak memakan korban. Dalam perkembangan Kota Poso kemudian kawasan yang rawan likuifaksi ini menjadi hunian yang padat sehingga memakan korban yang banyak ketika terjadi likuifaksi. Untuk masa yang akan datang tentunya musibah ini memberi pembelajaran untuk pihak perencana kota dan juga masyarakat tentang ancaman likuifaksi ini akan terulang di masa yang akan datang.

Wisata likuifaksi ini masih di tahap awal, sehingga perlu direncanakan dan dirancang dengan baik supaya bisa bermanfaat seperti yang dijelaskan di atas. Perlu dilakukan analisis lanjut dalam pengembangannya seperti pengaturan zonasi dan fasilitas yang dibutuhkan seperti museum, tempat parkir dan fasilitas penunjang lainnya.  Selain itu daya dukung kawasan tersebut dalam menampung pengunjung sangat perlu diperhatikan mengingat lokasi tersebut adalah rawan bencana likuifaksi. Perlu juga dilakukan kajian multi-disiplin  dalam penyusunan masterplan untuk kegiatan wisata sejarah likuifaksi di kota Palu secara keseluruhan.

Pesona lanskap di Cagar Biosfer Lore Lindu, Sulawesi Tengah

Air Terjun Saluopa

View lanskap dari TAHURA Kapopo

Situs Megalitik

Taman Nasional Lore Lindu  merupakan potenasi terbesar yang dimiliki Provinsi Sulawesi Tengah sehingga dinilai oleh UNESCO perlu dijadikan Cagar Biosfer (Biosphere Reserve). Penetapan ini dilakukan melalui sidang Dewan Internasional (International Coordinating Council) program manusia dan biosfer (Man and Biosphere Program) ke 31 di kota Place fontenoy, Perancis pada tanggal 17-21 Juni 2019. Dalam kegiatan survey lapang yang dilakukan pada tanggal 12-15 Juni 2021, saya berkesempatan mengunjungi 5 kabupaten yang masuk kedalam Cagar Biosfer Lore Lindu yaitu Kota Palu, Kabupaten Poso, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong. Kawasan ini memiliki florafauna endemik Sulawesi dan panorama alam yang berjuta pesona. Pada kegiatan survey lapang dilakukan kunjungan ke Danau Poso, Situs Megalitik, air terjun Saluopa, Gua Pamona, Taman hutan raya Kapopo. Lokasi-lokasi tersebut dijadikan sebagai objek wisata andalan di Cagar biosfer Lore Lindu selain Taman Nasional Lore Lindu.

« Older posts

© 2022 syartinilia wijaya

Theme by Anders NorenUp ↑